Rabu, 07 April 2010

RESPECTING COACH (filosofi seorang pelatih)


Dalam dunia olahraaga fungsi dan peran seorang pelatih sangat erat hubungannya dengan capaian prestasi yang diukir oleh atlet. Pelatih adalah seorang yang harus tahu tentang semua kebutuhan yang menjadi dasar bagi terpenuhinya kondisi dimana atlet memiliki peluang untuk mencapai prestasi. Hubungan antara pelatih atlet yang dibina harus merupakan hubungan yang mencerminkan kebersamaan pandangan dalam mewujudkan apa yang dicita-citakan.
Seorang pelatih dituntut mampu mejalani profesinya dengan tidak semata-mata bermodalkan dirinya sebagai bekas atlet, melainkan harus melengkapi dirinya dengan seperangkat kompetensi pendukung yang penting, diantaranya adalah kemampuan untuk mentransfer pengetahuan keolahragaannya kepada atlet secara lengkap baik dari segi teknik, taktik, maupun mental.
Kemampuan untuk mengorganisir dinamika mental atlet merupakan hal yang sangat penting untuk dikuasai pelatih. Kompetensi ini akan lebih banyak terlihat ketika dirinya menghadapi suasana kompetensi yang penuh dengan tekanan. Pengalaman akan menjadi modal utama dalam menghadapi situasi ini.
Penguasaan kecabangan olahraga dan dalamnya pengalaman tidak serta merta akan menjadikan dirinya sebagai pelatih yang dihormati dan disegani kecuali jika dirinya sudah memiliki karakter dan filosofi sebagai seorang pelatih. Karakter adalah konsistensi sikap dan cara pandang dalam menghadapi suatu masalah. Sedangkan filosofi adalah bingkai kepribadian yang akan menjadi jembatan bagi aktualisasi seluruh komponen yang dimiliki agar apa yang dilakukan dapat diterima oleh orang lain.
Dengan memiliki filosofi seorang melatih akan dapat memiliki pegangan ketika menjalankan tugas profesionalnya.



Pelatih yang dihormati (Respecting Coach)
Jose “the special one” Mourinho, adalah salah satu dimana seorang pelatih tidak memiliki modal sebagai mantan pemain terkenal. Tapi sekarang ini dia adalah pelatih termahal dan paling dihormati karena memiliki karakter dan kepribadian yang dapat menjadi senjata bagi atlet yang dilatihnya.
Contoh diatas menggambarkan bahwa seorang pelatih disamping dituntut untuk menguasai teknik kecabangan juga dituntut untuk dapat berperan sebagai pendamping atlet dalam upaya untuk meningkatkan prestasi. Berbekal dari kondisi ideal dan tuntutan kualitas tersebut maka pelatih harus memiliki filosofi kepelatihan yang berisi aspek-aspek kepribadian yang mendasari semua tindakan dalam melakukan tugasnya sebagai seorang pelatih.
Agar menjadi seorang pelatih yang dihargai oleh orang lain (respecting coach) atau pelatih yang disegani maka seseorang harus memiliki 3 aspek penting yaitu:
1. Pengetahuan (knowledge)
2. Pengalaman (experience)
3. Karakter (caracter)
1. Pengetahuan
Pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang pelatih terutama pengetahuan tentang cabang olahraga yang digeluti Selain harus mengetahui ilmu mengenai kecabangan olahraganya, mereka juga harus mendalami ilmu penunjang seperti ilmu Periodisasi latihan, Biomekanika, Faal olahraga, Gizi, Psikologi olahraga. .
Mendalami karakter cabang olahraga adalah mutlak, sehingga tidak akan salah dalam membina karakter atlit yang tentunya akan disesuaikan dengan kebutuhan kecabangannya .
2. Pengalaman.
Setelah mendalami semua ilmu diatas, masuklah pada masa praktek untuk menemukan efisiensi dari keilmuannya . Dengan mengalami salah benar . Akhirnya mereka akan menemukan “ Filosophy Kepelatihannya “ sendiri .
Menerapkan strategi hasil pengayaan dari beberapa buku dan pendapat para pakar, secara otomatis akan mendapatkan atau menemukan strategi andalannya dalam melatih Kemampuan menanggulangi berbagai masalah baik teknis maupun non- teknis juga merupakan keunikan tersendiri. Dari hasil pengalaman memimpin team di berbagai event yang diikutinya akan didapatkan nilai “ Art of Coaching “ yang akan selalu menjadi cirikhasnya dalam melatih dan memimpin tim.
3. Karakter .
Dengan menyadari sepenuhnya bahwa didalam dunia kepelatihan unsur-unsur yang mengandung nilai positif harus selalu diketengahkan, maka otomatis akan membentuk kepribadian yang kuat dalam membina atlitnya .
Mengerti akan sifat dan karakter anak didiknya, tentunya akan membantu banyak dalam tugas kesehariannya menghadapi atlitnya baik selama masa latihan maupun pertandingan . Hubungan yang kondusif ini dimana dia mampu bertindak sebagai orang tua atlet maupun pelayan akan membuat nilai kepribadiannya sebagai pelatih akan semakin tinggi .Karena kemampuannya menilai semua hal secara objective tidak subjective sebagaimana perasaan ayah kepada anaknya atau adiknya atau tuannya .

Kepribadian seorang pelatih dapat pula membentuk kepribadian atlet yang menjadi asuhannya. Hal terpenting yang harus ditanamkan pelatih kepada atletnya adalah bahwa atlet percaya pada pelatih bahwa apa yang diprogramkan dan dilakukan oleh pelatih adalah untuk kebaikan dan kemajuan si atlet itu sendiri. Untuk bisa mendapatkan kepercayaan tersebut dari atlet, pelatih tidak cukup hanya memintanya, tapi harus membuktikannya melalui ucapan, perbuatan dan ketulusan hati. Sekali atlet mempercayai pelatih, maka seberat apapun program yang dibuat pelatih akan dijalankan oleh si atlet dengan sungguh-sungguh.

Filosofi kepelatihan
Dalam membentuk filosofi dalam bentuk karakter yang kuat pada diri seorang pelatih menggunakan berbagai cara, dan berlangsung terus menerus selama bertahun-tahun, dimulai dengan pengalaman pribadi saat menjadi atlet, mengamati berbagai macam pertandingan, dan akan berlanjut disaat mempelajari lebih dalam tentang sebuah permainan dan penerapannya kepada atlit.
Filosofi pada hakekatnya adalah:
1. Upaya mengejar kearifan yang akan menolong dan menjawab pertanyaan dasar tentang apa, mengapa dan bagaimana
2. Filosofi menentukan cara/jalan dalam memandang sebuah obyek dan pengalaman dalam kehidupannya sebagai anggota masyarkat beserta interaksinya
3. Filosofi juga menentukan nilai-nilai yang dipegang menjadi pedoman dalam kehidupan
Mengapa filosofi dibutuhkan bagi seorang pelatih?
Ada sebuah cerita tentang seorang tua dan seorang anak muda beserta seekor keledainya yang akan menuju ke kota. Dalam perjalanan anak muda menunggangi keledai dan orang tua menuntun keledainya, sampai di sebuah tempat bertemu dengan seseorang dan mengatakan “ alangkah tidak baiknya seorang anak muda tega menaiki keledai sementara orang tua menuntun di bawahnya”. Mendengar kata-kata tersebut, maka orang tua segera menyuruh anak muda untuk turun dan tempatnya digantikan oleh orang tua, jadilah orang tua yang naik keledai sementara anak muda menuntunnya. Ketika melintasi suatu tempat seseorang mengatakan “ orang tua yang tidak bijak dan ingin enaknya sendiri membiarkan anak muda menuntun keledai padahal dia belum berpengalaman. Dari dua komentar yang dia dapatkan selama perjalanan maka ia berfikir mungkin sebaiknya dia bersama anak muda sama-sama menuntun keledai, akhirnya dituntunlah keledai itu bersama-sama hingga di satu tempat bertemu dengan seseorang yang berkata ” sungguh bodoh orang punya kendaraan / keledai tidak digunakan. Maka orang tua itupun berfikir hingga dia menemukan cara yang baru yaitu bersama-sama dengan anak muda menaiki keledai itu. Sampailah pada satu tempat lagi dimana dia bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa keduanya tidak memiliki perasaan terhadap keledai sampai harus menaiki keduanya. Akhirnya orang tua dan anak muda tersebut sepakat untuk mengendong keledai tersebut. Akibatnya di sebuah jembatan sungai saat keduanya menyeberang terlepaslah tali keledai tersebut hingga keledai jatuh ke sungai, hilanglah keledai itu.
Inti cerita tersebut menggambarkan bahwa jika seseorang tidak memiliki filosofi maka ia tidak akan mampu bersikap yang benar dan selalu terombang-ambing pada keraguan sikap sehingga dia akan kehilangan “ass” (keledai/ pegangan )
Dari cerita diatas bahwa untuk menjadi pelatih dibutuhkan suatu filosofi dan filosofi tersebut memiliki porsi yang lebih banyak dari pengetahuan tentang olahraga. Dengan filosofi itu maka akan memelihara pelatih dari “ losing your ass” (kehilangan pegangann). Filosofi lebih dari sekedar pengetahuan tentang olahraga, filosofi akan menghilangkan ketidakpastian tentang :
1. aturan latihan
2. gaya dalam permainan
3. disiplin
4. code of conduct
5. pandangan terhadap sebuah pertandingan
6. tujuan jangka pendek dan panjang
7. dan berbagai segi kepelatihan

Pengembangan Filosofi
Dalam perjalanan kepelatihannnya seorang pelatih akan menghadapi tugas yang menantang dengan banyak keputusan sulit dan dilematis. Dalam suasana tersebut terjadilah proses pengembangan baik dari aspek teknis pengetahuan kepalatihannya maupun yang lebih utama adalah pengembangan filosofinya dalam melatih.
Serangkaian pengalaman dalam melatih akan menolong untuk membuat keputusan sulit dan dilematis dan menjadi seorang pelatih yang sukses. Tanpa pengembangan filosofi pelatih akan mengalami ketidakcukupan untuk memerintah secara cepat dan akan menyerah terhadap berbagai tekanan dari luar. Pengembangan filosofi memiliki beberapa komponen yang harus dilakukan oleh seorang pelatih dan menolong pelatih dalam membuat keputusan. Komponen pengembangan filosofi terdiri dari:
1. Kenali diri sendiri, kekuatan, kelemahan dan hal-hal yang memerlukan perbaikan
2. Mengetahui apa yang harus dilakukan jika ketika menghadapi kesulitan dan hambatan yang mungkin terjadi
3. Pemahaman tentang atlet , kepribadian mereka, kemampuan, tujuan, dan mengapa mereka dalam olahraga
Dengan proses pengembangan filosofi maka setiap pelatih akan dapat memahami sifat-sifat kepribadiannya sendiri untuk dapat menyadari kelemahan-kelemahannya dan selanjutnya berusaha mengatasi kelemahan tersebut. Dan pada hakekatnya tidak ada manusia yang sempurna, artinya pelatih harus menyadari bahwa upaya untuk mengatasi kekurangan yang ada pada dirinya selalu perlu dilakukan

Kesadaran diri (self-Awarenes)
Seringkali kegagalan dalam melatih dan karier terjadi, karena kita gagal mengenali siapa diri kita sebagai pelatih yang sesungguhnya. Tidak jarang kita mengalami konflik emosional dan pertentangan batin karena apa yang dilakoni dan dikerjakan justru tidak sesuai dengan minat dan ke mampuan yang dimiliki. Sebaliknya, banyak orang yang cenderung mengejar kesuksesan hanya dengan berusaha meniru atau menjiplak orang lain.
Kurangnya self-awareness atau pengenalan terhadap diri sendiri sering membuat pelatih merasa tidak percaya diri, suka bersikap plin plan dan tidak punya prinsip yang kuat. Pelatih sulit menetapkan tujuan dan target yang ingin dicapai, karena banyak potensi dan bakat yang dimiliki hanya terpendam saja dan tidak dikembangkan. Self-awareness dapat dibangun dengan belajar memahami tipe karakter pribadi, pikiran dan perasaan yang ada, minat dan bakat yang dimiliki. Mengembangkan sikap kesadaran, penerimaan dan rasa menghargai diri sendiri. Menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki dengan membangun sikap introspeksi dan learning attitude yang positif.
Dalam membangun kesadaran diri tidak terlepas dari konsep Three-selves, yaitu:
1. Ideal Self: berisi nilai-nilai normatif yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang merepresentasikan nilai-nilai, perasaan, moral kehidupan baik kehidupan pribadi, keluarga maupun kehidupan lingkungannya.
2. Public self: gambaran umum orang lain pada diri seseorang berkaitan dengan sikap dan interaksi anda dalam masyarakat.
3. Real Self: Kondisi subjektif yang dimiliki seseorang berkaitan dengan perasaan, tingkah laku dalam realita kehidupan.


Menghargai diri sendiri (Self- Esteem)
Self-esteem dapat diartikan sebagai suatu perasaan di mana seorang pelatih merasa dirinya berharga dan merasa bangga terhadap dirinya. Self esteem atau harga diri sebagai penentu perilaku merupakan dasar bagi pertumbuhan positif dan perasaan berharga dalam hubungan kemanusiaan, belajar dan tanggung jawab. Dalam menjalankan profesinya seorang pelatih perlu memiliki self esteem atau harga diri yang tinggi. Self esteem atau harga diri yang tinggi penting dimiliki karena taraf harga diri akan mempengaruhi perilaku kerja individu, self-esteem akan nampak pada diri pelatih ditandai dengan:
1. Potensi kekuatan yang dimiliki
2. Kemampuan berkomunkasi
3. Penampilan

Keterbukaan (self – Disclosure)
Dalam menjalin komunikasi baik dengan atlet maupun dengan orang lain , pelatih pada dasarnya melakukan pengungkapan diri sendiri. Namun, pengungkapan diri tersebut mungkin saja baru sampai pada sisi-sisi terluar dari kemampuan dirinya. Ketika situasi komunikasi antar pribadi terbentuk dan pelaku komunikasi berkeinginan mempengaruhi jalannya komunikasi maka self-disclosure berlangsung. Apalagi apabila komunikasi antar pribadi itu merupakan komunikasi di antara dua orang yang sudah akrab (pelatih dengan atlet) maka self-disclosure itu akan berlangsung hingga bisa tersingkapkan bagian-bagian diri yang terdalam.
Self-disclosure itu bersifat timbal balik atau ada juga yang menyatakan, dalam komunikasi, self-disclosure itu bersifat simetris. Masing-masing orang yang terlibat dalam komunikasi itu akan saling menyingkapkan dirinya. Apabila saja salah satu pihak yang berkomunikasi itu tidak membuka dirinya maka self-disclosure tidak akan bisa berlangsung. Hal ini berarti bahwa dengan komunikasi yang intens dan hubungan yang baik antara atlet dan pelatih maka akan tejalin suatu keterbukaan yang kondusif.
Dengan demikian maka keterbukaan memiliki arti bagi pelatih adalah:
1. Keterbukaan menjamin seorang pelatih untuk dapat dikenali oleh orang lain dan mengenal orang lain
2. Sikap terbuka akan menjembatani komunikasi efektif dengan atlet.
Dengan mengembangkan filosofi kepelatihan melalui aspek kepribadiannya, seorang pelatih pada akhirnya akan dituntut untuk dapat mengaktualisasikan dalam perilaku profesional sebagai seorang pelatih.
Aktualisasi diri seorang pelatih akan terlihat ketika menjalin hubungan dengan atlet. Dalam proses pembinaan olahraga prestasi antara pelatih dan atlet harus dibangun hubungan yang serasi, artinya satu dengan yang lain harus mampu memposisikan sebagai obyek sekaligus subyek yang dikenai perlakuan, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan tujuan yang telah ditetapkan bersama berupa prestasi puncak.
Dan pada hakekatnya apabila seseorang sudah berniat menjadi seorang pelatih salah satu cabang olahraga, maka sebenarnya ia sudah harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi contoh yang baik daripada atlit yang dilatihnya, seorang pelatih yang baik dalam memiliki ciri-ciri diantaranya sebagai berikut :
a. memiliki Kemampuan profesional sebagai pengajar
b. Mengetahui cara melatihnya
c. Memiliki kepribadian yang baik
d. Memiliki karakter yang baik

Hubungan Pelatih dengan Atlet.
Phill Jackson pelatih Bola basket LA Lakers memandang bahwa kunci keberhasilan seorang pelatih adalah bagaimana ia dapat memberikan rasa percaya diri dan aman kepada atlet saat atlet bertanding, Rhonda Revelle pelatih soft ball University of Nebraska USA, memiliki pandangan bahwa seorang pelatih harus memandang atlet bukan semata-mata sebagai atlet tetapi sebagai manusia yang utuh yang memilki permasalahan dan kelebihan. Dua pandangan pelatih kaliber internasional tersebut memberikan gambaran bahwa fungsi pelatih dalam olahraga disamping mempunyai fungsi sebagai pembuat atau pelaksana program latihan, juga dapat sebagai motivator, konselor, evaluator dan yang bertanggung jawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan kepelatihan tersebut.
Sebagai manusia biasa, pelatih sama halnya dengan atlet, mempunyai kepribadian yang unik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Setiap pelatih memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itu tidak ada pelatih yang murni ideal atau sempura. Untuk itu maka dalam mengisi peran sebagai pelatih, seseorang harus melibatkan diri secara total dengan atlet asuhannya. Artinya, seorang pelatih bukan hanya berhubungan masalah atau hal-hal yang berkaitan dengan olahraganya saja, tetapi pelatih juga harus dapat berperan sebagai teman, guru. orangtua, konselor, bahkan psikolog bagi atlet asuhannya. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa atlet sebagai seorang yang ingin mengembangkan prestasi, akan mempunyai kepercayaan penuh terhadap pelatihnya.
Terjadinya hubungan yang mendalam antara pelatih dengan atlet asuhannya harus dilandasi oleh adanya empati dari pelatih terhadap atletnya tersebut. sifat ini merupakan kemampuan pelatih untuk dapat menghayati perasaan atau keadaan atletnya, yang berarti pelatih dapat mengerti atletnya secara total tanpa ia sendiri kehilangan identitas pnbadinya. Untuk mengerti keadaan atlet dapat diperoleh dengan mengetahui atau mengenal hal-hal penting yang ada pada atlet yang bersangkutan.
Hubungan profesional pelatih dengan atlet yang dipengaruhi oleh sifat atau kepribadian pelatih akan merujuk pada satu tipe kepelatihannya. Adapun jenis atau tipe pelatih adalah:
1. Pelatih yang Otoriter ( Comand style, Dominating Coach, the dictator, ototriter)
Tipe pelatih yang paling umum, utamanya pada olahraga beregu, seperti bolabasket. Karakteristik yang menonjol adalah disiplin dan agresif. Pelatih ini akan selalu terjebak dalam situasi "Do or Die" (memaksakan kehendak), akan tetapi dapat menumbuhkan perhatian atlit dalam berlatih. Tipe ini biasanya terorganisasi dan terencana dengan baik, menuntut perhatian penuh dari atlit dan diwarnai adanya hukuman-hukuman dalam menegakkan disiplin yang diterapkan. Keuntungan tipe pelatih ini adalah terciptanya suasana yang disiplin dan mendukung pencapaian prestasi serta menimbulkan dedikasi untuk mencapai tujuan. Sedangkan kelemahannya adalah terlalu sensitif dan rentan konflik, apalagi jika terjadi kekalahan beruntun.
2. Pelatih yang Demokratis (Cooperative style, Personable Coach)
Ini adalah tipe pelatih yang "Nice Guy" yang disenangi seluruh anggota tim dikarenakan fleksibel dan kreatif dalam pendekatan kepada atlit dan penuh perhatian dengan menganggap atlit sebagai individu yang berberbeda dalam perlakuannya. Keuntungan yang didapat adalah iklim atau suasana saling menghormati dan hubungan yang berkualitas yang kadang akan memunculkan hasil di luar dugaan. Setiap orang yang termasuk dalam tim sangat menikmati peran dan sumbangannya terhadap tim. Sedangkan kerugian karena terlalu fleksibel dan keterbukaan pelatih dapat disalahgunakan oleh atlit, sehingga hal ini akan nampak berubah menjadi "kelemahan"
3. Pelatih yang Santai (Submissive style, Casual Coach, the baby sister)
Tipe pelatih yang "Easy Going", nyantai, pasif dan mengurangi keterlibatannya dalam tim. Hal ini akan tercermin dengan tidak adanya komitmen tim. Pelatih ini terbiasa mempersiapkan diri dan segala sesuatunya tidak terencana, sehingga ia hanya berperan sebagai konsultan, keuntungannya atlit dituntut untuk mengembangkan kemandiriannya daripada menunggu dan menguntungkan pelatih. Suasana yang santai menghindari dari suasana yang penuh tekanan, tapi kerugiannya persiapan tim biasanya tidak mencukupi dalam menghadapi even, dikarenakan tidak adanya rencana yang matang, hal yang paling menonjol adalah tingkat kemampuan fisik yang sangat rendah. Efek dari sikap santai ini akan menimbulkan hilangnya kewibawaan seorang pelatih
Dengan mengacu pada teori kepribadian dan kemampuan komunikasi maka pelatih yang baik adalah:
1. Pelatih merupakan suri tauladan dengan penuh kejujuran bagi atletnya
2. Pelatih bisa menjadi "Pengikut" dan "Pendengar" yang baik
3. Pelatih bisa mendisiplinkan atlit
4. Pelatih bisa mengoreksi dan mau dikoreksi
5. Pelatih berfungsi sebagai ahli Psikologi bagi atlet
6. Pelatih berfungsi sebagai teman dan pembimbing (curhat)
7. Pelatih berfungsi sebagai pengganti orang tua
8. Pelatih professional yang ditandai oleh kinerja mereka selain didasarkan berdasarkan pengalaman sebagai pemain pada salah satu cabang olahraga juga memiliki ilmu pengetahuan yang dapat menunjang kelancaran dalam melaksanakan tugasnya.
9. Konsisten
10. Kridibel
11. Sensitif
12. Menghindari sindiran tajam
13. Penuh rasa humor

Penutup
Gambaran diatas menunjukan bahwa sosok pelatih yang memiliki filosofi adalah pelatih yang dapat mengerahkan semua potensi kepelatihannya dalam tindakan nyata dalam upaya mendampingi atlet mencapai tujuan prestasi yang diinginkan. Secara rinci dapat di simpulkan:
1. Memiliki Filosofi adalah kunci menuju karir seorang pelatih
2. Belajar mengenali diri sendiri dan berfikir tentang masalah yang penting adalah pedoman kerja seorang pelatih.
3. Sifat terbuka akan menolong pelatih dalam berhubungan dengan atlet
4. Tukar fikiran berkaitan dengan filosofi akan menolong atlet-atlet untuk dapat pula mengembangkan filosofinya.
5. Resep yang paling utama dari pelatih adalah keyakinan bahwa dirinya memiliki filosofi.
6. Filosofi tidak akan nampak dari perkataan tapi dari perbuatan

Bahan Rujukan:
Morris, Summers, 1995. Sport Psychology , theory applications and Issues, John Wiley and Sons. Sydney
Rainer, Martens, 2004. Succesful Coaching. Human Kinetics
Roberts Weinber, Daniel Gould, 1995. Foundations of Sport and Exercise Psychology. Human Kinetics.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar